Pentingnya Mendengarkan Ide Karyawan

Mendengarkan Karyawan

Mendengarkan karyawan secara efektif bukan merupakan kemampuan alamiah untuk kebanyakan orang. Salah satu hal yang memprovokasi sampai berapa baik seseorang mendengarkan ialah sikapnya terhadap orang yang mengucapkan pesan kepadanya (sender). Misalnya banyak sekali orang berkecenderungan guna lebih memperhatikan baik-baik atasan (orang-orang yang di atas) mereka daripada semua bawahan (orang-orang yang di bawah) mereka.

 

Pada masa-masa yang bersamaan, menerima apa yang benar dari orang lain berarti dapat memperhatikan kebenaran tersebut tanpa merasa terguncang, bingung atau gembira berlebihan. Dengan kata lain, tahu mengenai apapun yang terjadi, usahakan tetap bersikap netral. Bagi yang mendapatkan kenyataan yang sebetulnya dari karyawan, atau siapapun tentang diri Anda.

Maka setidaknya terdapat dua hal urgen yang mesti anda lakukan yakni :

  • Mendengarkan tanpa Menghakimi

Jika anda bisa mendengarkan karyawan tanpa menghakimi, maka urusan itu meupakan suatu tindakan tepat dalam menemukan aspirasi ataupun kritikan yang bisa bermanfaat di lain hari.

Saat ini sistem pendidikan, yang berbasis pada pemberian penghargaan (reward) dan hukuman (punishment) sudah menjadikan diri anda guna mendengar dan menghakimi. Ini adalah warisan dunia industri yang masih ada sampai kini, di mana sesuatu urusan dinilai sebagai baik atau buruk. Dalam lingkungan saat ini, pemimpin di sekian banyak tingkatan tidak jarang mendapat kisah asal bapak senang (ABS) dan bukan apa yang bahwasannya terjadi.  Budaya ABS akan menciptakan pemimpin sering melalaikan tentang perspektif urgen dan kenyataan yang seharusnya atau butuh mereka ketahui. Hal ini bahkan akan menciptakan mereka merasa seperti tidak mendapat gambar secara utuh, sampai-sampai tidak yakin mengenai apa yang mesti dilakukan.

 

Jika orang tidak berani berkata apa adanya, baik di dalam keluarga maupun dalam hal pekerjaan, umumnya sebab ada sesuatu yang mereka takuti. Pada hal pekerjaan, dapat saja mereka takut terhadap pimpinan, reaksi atasan, ataupun konsekuensi dari menyebarluaskan/ berbagi kebenaran.

 

Jika Anda mendengarkan karyawan dan memperhatikan tanpa menghakimi, Anda bakal mendengar apa yang disebutkan dan apa yang tidak dikatakan. Anda bakal belajar mengenai segala urusan yang tidak kelihatan tetapi urgen (kebersangkutanan, politik kantor, kesepakatan, pertentangan antardepartemen, pendanaan, dan lainnya), yang bakal menilai teknik Anda merespon.

  • Merasa tenang dan terkendali tanpa terpengaruh mengenai apa yang dikisahkan atau apa yang terjadi

Umumnya orang hendak berbagi bakal hal-hal yang menurut keterangan dari mereka penting, apakah itu usula yang dapat mengolah arah perusahaan atau keprihatinan tentang bisa jadi akan gagalnya proyek-proyek utama. Semakin Anda memperhatikan tanpa menghakimi, semakin tidak sedikit hal yang bakal didapat. Jika Anda ialah seorang pemimpin, maka bakal ada banyak informasi yang bermanfaat untuk solusi masalah yang ada dan semakin tidak sedikit kontribusi dapat diserahkan.

 

Diperlukan keinginan kuat untuk mendengarkan karyawan  dan memperhatikan sesuatu dari bawahan. Oleh karena itu, sejumlah hal yang perlu dilaksanakan manajer supaya efektifitas memperhatikan bawahan terjangkau adalah:

  1.  Memahami identitas karakter semua karyawan dilihat dari segi kemampuan berkomunikasi, keagresifan dalam bertanya, kadar emosi, hingga pengetahuan tentang sebuah masalah. Hal ini urgen untuk memperkecil distorsi informasi saat manajer akan memperhatikan dan merespon sesuatu yang dikatakan karyawannya.
  2. Memahami apa yang dikatakan bawahan tergolong dalam urusan isi dan tujuan paparan pesan, alasan, dan sudut pandang karyawan. Mendorong karyawan supaya menyampaikan urusan tersebut dengan jelas atau tidak kabur yang dapat memunculkan multitafsir. Semakin paham semakin fasih proses memperhatikan dan merespon karyawan.
  3. Selalu konsentrasi dan sarat perhatian untuk karyawan yang mengucapkan pesan. Jangan hingga ada kesan manajer melecehkan karyawan. Ini memang cukup penting dalam menyerahkan empati tinggi sehingga karyawan merasa diperhatikan dan dihargai eksistensinya.
  4. Bersikap tersingkap dalam menerima pesan dari karyawan. Hindari terjadinya kekakuan berkomunikasi. Bagi itu bilamana dianggap butuh manajer membina suasana kesetaraan dan keharmonisan (jalur informal) dalam memperhatikan dan mengetahui suatu pesan karyawan dan respon manajer (timbal balik).
WhatsApp